Ekologi Bahasa, Kepunahan Bahasa Daerah, dan Pergulatan Identitas Lokal: Sebuah Pendekatan Cultural Studies

Authors

  • Hamjah Diha Universitas Qamarul Huda Badaruddin

Keywords:

Ekologi Bahasa; Kepunahan Bahasa; Bahasa Daerah; Identitas Lokal; Cultural Studies; Revitalisasi Bahasa

Abstract

Dominasi Bahasa daerah merupakan bagian penting dari ekologi kebahasaan karena tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menyimpan memori kolektif, pengetahuan lokal, nilai budaya, solidaritas sosial, dan identitas komunitas. Namun, keberlangsungan bahasa daerah menghadapi tekanan yang semakin kompleks akibat perubahan lingkungan sosial yang meliputi mobilitas penduduk, urbanisasi, pendidikan formal, globalisasi, perubahan ekonomi, serta meningkatnya prestise bahasa nasional dan global. Dalam perspektif cultural studies, pergeseran dan kepunahan bahasa tidak dapat dipahami semata-mata sebagai proses linguistik, tetapi sebagai arena relasi kuasa, produksi makna, representasi, dan negosiasi identitas. Artikel ini bertujuan menganalisis keterkaitan antara dinamika ekologi bahasa, kepunahan bahasa daerah, dan pergulatan identitas lokal melalui pendekatan cultural studies. Penelitian menggunakan studi pustaka kualitatif dengan desain deskriptif-interpretatif. Data diperoleh dari artikel ilmiah, buku akademik, dan publikasi penelitian yang membahas ekologi bahasa, keterancaman bahasa, pergeseran bahasa, identitas budaya, serta revitalisasi bahasa. Analisis dilakukan melalui reduksi data, kategorisasi tematik, komparasi antarkajian, dan interpretasi kritis. Hasil kajian menunjukkan bahwa keterancaman bahasa terutama berkaitan dengan melemahnya transmisi antargenerasi, penyempitan ranah penggunaan, ketimpangan prestise, marginalisasi bahasa lokal dalam institusi formal, dan perubahan orientasi identitas generasi muda. Kepunahan bahasa sekaligus berpotensi menyebabkan hilangnya pengetahuan lokal dan melemahnya kontinuitas identitas budaya. Oleh karena itu, revitalisasi bahasa perlu diarahkan pada penguatan agensi komunitas melalui pendidikan bilingual, dokumentasi, sastra lisan, penggunaan bahasa dalam ruang publik, dan pemanfaatan media digital. Pelestarian bahasa daerah dengan demikian merupakan persoalan keberlanjutan budaya dan keadilan linguistik, bukan sekadar konservasi sistem bahasa.

References

Augustyniak-Żmuda, G. (2025). Local language variants of Podlachian region as a component of the region’s intangible heritage. Zeszyty Łużyckie, 63(2). https://doi.org/10.32798/zl.1937

Bourdieu, P. (1991). Language and Symbolic Power. Harvard University Press.

Bromham, L. (2023). Language endangerment: Using analytical methods from conservation biology to illuminate loss of linguistic diversity. Cambridge Prisms: Extinction, 1, e3. https://doi.org/10.1017/ext.2022.3

Bromham, L., Dinnage, R., Skirgård, H., Ritchie, A., Cardillo, M., Meakins, F., Greenhill, S. J., & Hua, X. (2022). Global predictors of language endangerment and the future of linguistic diversity. Nature Ecology & Evolution, 6, 163–173. https://doi.org/10.1038/s41559-021-01604-y

Connell, B., Zeitlyn, D., Griffiths, S., Hayward, L., & Martin, M. (2021). Language ecology, language endangerment, and relict languages: Case studies from Adamawa (Cameroon-Nigeria). Open Linguistics, 7(1), 244–300. https://doi.org/10.1515/opli-2021-0011

Fishman, J. A. (1991). Reversing Language Shift: Theoretical and Empirical Foundations of Assistance to Threatened Languages. Multilingual Matters.

Hall, S. (1996). Who needs “identity”? In S. Hall & P. du Gay (Eds.), Questions of Cultural Identity (pp. 1–17). SAGE.

Hale, K. (1992). Language endangerment and the human value of linguistic diversity. Language, 68(1), 35–42. https://doi.org/10.1353/lan.1992.0074

Haugen, E. (1972). The ecology of language. In A. S. Dil (Ed.), The Ecology of Language (pp. 325–339). Stanford University Press.

Handayani, P., & Hakima, A. R. (2025). Anak Dayak bahasa Banjar: Dominasi bahasa pendatang pada masyarakat Dayak Ngaju di Desa Pulau Telo. Huma: Jurnal Sosiologi, 4(1), 94–106. https://doi.org/10.20527/h-js.v4i1.362

Mare, F. J., & Leba, B. S. (2025). Khazanah semantik leksikal bahasa ibu dalam sastra lisan Syair Rae Raja Lima. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 4(11), 3441–3449. https://doi.org/10.55681/sentri.v4i11.4985

Mufwene, S. S. (2001). The Ecology of Language Evolution. Cambridge University Press.

Nettle, D., & Romaine, S. (2000). Vanishing Voices: The Extinction of the World's Languages. Oxford University Press.

Skutnabb-Kangas, T. (2000). Linguistic Genocide in Education—or Worldwide Diversity and Human Rights? Lawrence Erlbaum Associates.

Tamrin, T., Zalmansyah, A., Yance, I., B., M. A., Karsana, D., Harum, D. M., Supriadi, A., Yono, S., Hidayat, S., & Wardhani, A. (2025). Endangered language: Preserving Totoli language and cultural identity. Theory and Practice in Language Studies, 15(6), 1885–1897. https://doi.org/10.17507/tpls.1506.17

Downloads

Published

2026-03-29

How to Cite

Diha, H. (2026). Ekologi Bahasa, Kepunahan Bahasa Daerah, dan Pergulatan Identitas Lokal: Sebuah Pendekatan Cultural Studies. P@RAD!GMA : Jurnal Kajian Budaya & Media, 4(01), 1–12. Retrieved from https://ejournal.hamjahdiha.org/index.php/paradigma/article/view/342