Filosofi Hijau pada Selogan “Tioq Tata Tunaq” Kabupaten Lombok Utara: Kajian Ekolinguistik
Keywords:
Ekolinguistik, Tioq Tata Tunaq, Filsafat Hijau, Lombok UtaraAbstract
Selain sebagai media komunikasi, bahasa juga mempunyai berbagai fungsi, salah satunya sebagai alat sugesti. Ada berbagai multidisiplin ilmu yang berkaitan dengan bahasa, seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, dan lain sebagainya. Ada pula istilah Eko-linguistik yang menghubungkan pengaruh bahasa dengan lingkungan biologis manusia. Slogan “Tioq Tata Tunaq” di Lombok Utara menjadi objek kajian peneliti dalam tulisan ini. Slogan tersebut dirasa mempunyai pandangan filosofis terhadap pelestarian lingkungan hidup. Hingga saat ini belum ada penelitian terkait kandungan filosofis dari slogan “Tioq Tata Tunaq” terkait pelestarian lingkungan. Oleh karena itu, peneliti mengkaji slogan tersebut dengan menggunakan pendekatan teori Eko-linguistik, dengan metode linguistik dialektis, mengurai wacana yang terdapat pada setiap kata yang tercantum pada slogan “Tioq Tata Tunaq” dengan menemukan intertekstual, intratekstual, dan ekstra. -elemen tekstual. Selain itu juga mengurai morfem kunci dalam slogan tersebut. Peneliti menemukan adanya kaitan erat antara slogan “Tioq Tata Tunaq” dengan pelestarian lingkungan hayati. Setelah dilakukan analisis, peneliti menemukan bahwa setiap kunci morfem pada slogan tersebut mengarahkan maknanya pada hal-hal yang berkaitan dengan filosofi hijau (pelestarian alam). Jadi dapat dikatakan semboyan “Tioq Tata Tunaq” mengandung filosofi menjaga kelestarian alam atau lingkungan hayati.
References
Bang, J.Chr. dan Door, J. (1993). EcoLinguistics: A Framework. [online] Dapat diakses lewat situs:
Bang, J. Chr. dan Door, J. (1996). Language, Ecology, and Truth – Dialogue and Dialectics. [online] Dapat diakses lewat situs: www.pdfio.com/k-22479.html
Bundsgaard, Jeppe dan Sune Steffensen. (2000). ”The Dialectics of Ecological Morphology - or the Morphology of Dialectics”. Dalam Anna Vibeka Lindo dan Jeppe Bundsgaard (eds.) Dialectal Ecolinguistics: Three Essays for the Symposium 30 Years of Language and Ecology in Graz, December 2000. University of Odense
Subiyanto Agus. (2013). “Ekolinguistik: Model Analisis dan Penerapannya” HUMANIKA, vol. 18, no. 2, Jul. https://doi.org/10.14710/humanika.18.2.
Kantor Bahasa NTB. (2017). Kamus Bahasa Sasak-Indonesia. Kementerian Pendidikan RI
BPS Lombok Utara. (2019). Data Lombok Utara
Profil Kabupaten Lombok Utara. (2022). Lombok Utara Dalam Data
Akib Muhammad. (2016). Hukum Lingkungan Perspektif Global dan Nasional. Jakarta: PT. Grafindo Persada
Amsyari Fuad. (1997). Prinsip-prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan. Jakarta: Ghalia Indonesia
Halliday, M.A.K. (2001). “New Ways of Meaning: The Challenge to Applied Linguistics”. Dalam Fill, A. dan Muhlhausler, P. The Ecolinguistics Reader: Language, Ecology, and Environment. London: Continuum
Haugen, E. (1972). “The Ecology of Language”. dalam Dil, A.S. (ed) The Ecology of Language: Essays by Einar Haugen. Stanford: Stanford University Press.
Haugen, E. (1972). “The Ecology of Language”. Dalam Fill, A. dan Muhlhausler, P. The Ecolinguistics Reader: Language, Ecology, and Environment. London: Continuum.
Steffensen, Sune Vork. (2007). “Language, Ecology and Society: An Introduction to Dialectical Linguistics”. Dalam Steffensen, S.V dan J. Nash (Eds). Language, Ecology and Society – a Dialectal Approach. London: Continuum.
Fox James. (2021). Dari Alam hingga Gerakan Lingkungan, Menelusuri Asal-usul Warna Hijau. Jakarta: BBC Indonesia. Situs bisa dikunjugi di https://www.bbc.com/indonesia/vert-cul-59236573



